Wednesday, January 13, 2016

Miris Nasib Atlet Berprestasi Indonesia Yang Terlupakan

"Miris Nasib Atlet Berprestasi Indonesia Yang Terlupakan" - Teman anehtapinyata.net prestasi olahraga atlet Indonesia di kancah dunia memang cukup banyak yang membanggakan. Mereka berhasil mengukir prestasi dan mengharumkan nama bangsa. Namun ternyata prestasi saja tidak cukup, setelah tidak lagi menjadi atlet para mantan olahragawan juga menghadapi kerasnya dunia. Bahkan ada beberapa mantan atlet yang berada dalam garis kemiskinan yang memperihatinkan. Siapa saja mantan atlet tersebut? Berikut informasinya.


Mantan Atlet Angkat Berat Berprestasi Kini Menjadi Tukang Las (Denny Thios)


Teman anehtapinyata.net pada saat ini mungkin tidak begitu banyak yang mengenal nama Denny Thios. Namun, pada era 80an 90an nama Denny Thios begitu bersinar sebagai atlet angkat berat berprestasi. Prestasinya tersebut tidak hanya di lingkup nasional saja, melainkan sudah merambah di kancah internasional. Pria kelahiran Makassar 22 Desember 1969 ini telah berungkali mengibarkan bendera merah putih di kancah internasional. Ia berhasil meraih medali perak di PON XII, medali emas dalam kejuaraan angkat berat asia yang sekaligus juga memecahkan 3 rekor dunia. Ia juga berhasil meraih medali perunggu dalam kejuaraan angkat berat dunia di Belanda, medali emas dalam kejuaraan angkat berat dunia di Inggris, serta medali emas di kejuaraan angkat berat dunia di Swedia. Namun ternyata prestasinya tersebut berbanding terbalik dengan kehidupannya sekarang. Bisa dibilang Denny sekarang berada dalam masa-masa sulit, kehidupan ekonominya cukup memperihatinkan. Denny sekarang mencukupi kebutuhan ekonomi keluarganya dengan mengandalkan pekerjaan sebagai tukang las. Dengan pekerjaanya tersebut tentu saja penghasilannya tidak menentu, kadang sepi kadang pula ramai.

Mantan Atlet Pencak Silat Penyumbang Emas Kini Menjadi Sopir Taksi (Marina Segedi)


Teman anehtapinyata.net Marina Segedi merupakan seorang atlet pencak silat yang karirnya sukses baik dikancah nasional maupun internasional. Selain pernah menyabet gelar di kejuaraan nasional dan daerah itu, Marina juga pernah menjuarai Kejuaraan ASEAN Pencak Silat Kelas A Putri pada 1983 di Singapura. Namun setelah masa keemasannya hilang, kehidupan ekonominya pun mulai berubah. Dia hidup pas-pasan serta menumpang di rumah ibunya, untuk menghidupi anak-anaknya, Marina bekerja sebagai supir taxi. Tapi keberuntungan masih dimiliki oleh wanita dua anak ini, pada tahun 2011 dia bertemu dengan pegawai Kemenpora dan menceritakan tentang jati dirinya. Awalnya segala ucapannya memang tidak begitu saja dipercaya, namun setelah Marina menunjukan koleksi kliping terkait dirinya dalam cabang olahraga Pencak Silat barulah sang pegawai Kemenpora tersebut percaya. Dan pada tanggal 9 September 2011, setelah mengikuti beberapa prosedur, akhirnya wanita ini pun mendapatkan tunjangan rumah senilai 125 juta rupiah.

Mantan Atlet Dayung Yang Kini Jadi Buruh Cuci (Leni Haini)


Teman anehtapinyata.net Leni Haini merupakan seorang mantan atlet dayung perahu naga yang pernah ikut andil dalam mengibarkan bendera merah putih dikancah kejuaraan dunia. Ia pernah menyumbang 2 medali emas dalam kejuaraan perahu naga Asia di Singapura, 3 emas dan 1 perak di kejuaraan dunia perahu naga di Hongkong, serta 1 emas pada kejuaraan perahu naga Asia di Taiwan. Namun, segelimang prestasinya tersebut ternyata tidak sebanding dengan kehidupannya saat ini. Saat mengikuti pelatnas, Leni masih mengikuti pendidikan di SMP. Saat itu dia dijanjikan masalah pendidikannya akan diurus kemudian. Namun saat keluar dari pelatnas di usia 22 tahun, dia kesulitan mengurus nasib pendidikannya dikarenakan kepengurusan yang dulu menjanjikannya telah berganti dan pengurus yang baru tidak mempedulikan kejelasan pendidikannya tersebut. Hanya dengan berbekal ijazah SD dan kejar paket B, ia kesulitan mendapatkan pekerjaan dan akhirnya menjadi buruh cuci. Tidak hanya kemalangan tersebut yang menimpa perempuan ini, salah satu putrinya menderita penyakit langka hingga barang dan harta miliknya harus dijual untuk mengobati putrinya. Kecewa karena tidak adanya perhatian dari pemerintah Leni pernah berniat membakar piagam penghargaan yang dia miliki. Namun akhirnya perhatian pemerintah pun datang, pada tahun 2013 pemerintah memberikannya penghargaan berupa uang sebesar 50 juta rupiah.

Mantan Atlet Balap Sepeda Yang Menjadi Tukang Becak (Suharto) 


Teman anehtapinyata.net di ajang lomba balap sepeda pada SEA Games tahun 1979 di Thailand, nama Suharto sangat diperhitungkan. Pada saat itu dia berhasil meraih medali emas bersama dengan rekannya, yakni Sutiono, Munawar dan Dasrizal, mereka berhasil mengalahkan Malaysia di nomor ‘Team Time Trial’ jarak 100 km. Tidak hanya dalam team, perorangan pun dia berhasil mendapat medali perak masih dalam ajang tersebut. Namun, meski prestasinya begitu gemilang, tampaknya nasib ekonomi tidak serta merta mengikutinya, dalam masa tuanya dia menggantungkan hidupnya dari mengayuh becak di Surabaya. Sama seperti Leni Haini pada tahun 2013 pria ini pun mendapat perhatian dari pemerintah.

Mantan Atlet Lari Estafet Yang Menjual Medalinya Untuk Makan (Hapsani)


Teman anehtapinyata.net nama Hapsani memang tidak begitu dikenal, namun pada ajang kompetisi SEA Games tahun 80an nam Hapsani merupakan salah satu atlet yang diperhitungkan. Pada tahun 1981 Hapsani berhasil meraih medali perak dan pada tahun 1983 berhasil meraih medali perunggu. Kedua medali tersebut dia menangi dalam ajang lari estafet 4 x 100 meter. Namun miris, setelah tidak lagi dalam masa keemasan, kehidupan ekonominya malah merosot. Suaminya tidak bekerja, sedangkan Hapsani mencari penghasilan dengan menjadi pelatih atletik bagi anak-anak di sekitar rumahnya. Dengan penghasilan yang tidak seberapa tersebut kehidupan ekonominya pun cukup memperihatinkan, sampai-sampai pada tahun 1999 hanya untuk sekedar makan, wanita ini terpaksa menjual medalinya di pasar loak.


Sungguh miris bukan teman? Kita berharap kedepannya pemerintah lebih memperhatikan nasib dari orang-orang yang telah mengharumkan nama bangsa Indonesia di kancah internasional. Iya setidaknya memberi mereka penghargaan agar dapat menopang perekonomian kehidupannya.