Asiaforbet

Tuesday, May 29, 2018

author photo
Hamparan luas padang rumput kering di wilayah Afrika Selatan sejak beberapa waktu yang lalu nampak dihiasi jejak-jejak aneh dan asing, di mana jejak-jejak yang asing itu akhirnya terkenal dengan sebutan “Lingkaran Peri”. Jejak-jejak lingkaran itu tidak hanya beberapa saja, namun tergolong sangat banyak dan hampir merata pada keluasan tertentu. Jajak-jeka lingkaran itu memiliki diameter dari 2 meter hingga ada yang mencapai diameter 15 meter. Yang unik dan anehnya adalah lingkaran-lingkaran itu terbentuk tepat pada spot tengah vegetasi rumput, yang terkhusus di wilayah Namibia. Namun, lingkaran-lingkaran yang misterius itu juga ada ditemukan di daerah Angola

Penelitian ilmiah para ahli tentang fenomena “Lingkaran Peri”


Seperti yang juga sudah dihasilkan oleh sejumlah penelitian para ahli dari berbagai tempat, bahwa fenomena lingkaran peri itu rata-rata terdiri oleh daerah lingkar bulat yang dalamnya cenderung tidak tervegetasi sama sekali. Kemudian juga belum ada sama sekali penjelasan ilimiah yang sanggup mengungkap tentang bagaimana jejak-jejak lingkaran itu bisa terbentuk. Ada satu buah teori yang mengatakan bawasanya hewan rayaplah yang berperan dalam munculnya jejak-jejak lingkaran itu. Akan tetapi studi yang terbaru juga telah menyatakan bahwasanya tidak ada yang menjadi bukti kuat bahwa hewan rayap yang menjadi penyebab fenomena aneh ini. 

Fenomena “Lingkaran Peri” dan mitos masyarakat setempat


Di dalam mitos-mitos lisan dari penduduk asli wilayah Himba, jejak-jejak aneh tersebut dipercaya dibuat secara tidak sengaja oleh seekor naga api yang bersemayam di bawah kedalaman kerak bumi. Di mana nafas naga yang panas itu menghasilkan gelembung-gelembung berapi yang naik ke atas permukaan bumi, kemudian secara alamiah membakar vegetasi yang kemudian membentuk lingkaran-lingkaran yang berbentuk rapi.

Namun tidak berhenti sampai di mitos tersebut, studi ilmiah kembali dilakukan oleh sejumlah ahli dan ilmuwan dari Afrika Selatan. Penelitian dan studi tersebut kemudian menunjukkan bahwa fenomena jejak lingkaran-lingkaran itu muncul serta kemudian mereka lenyap secara berkala. Awalnya lingkaran-lingkaran itu muncul dengan diameter 2 meter hingga mencapai 12 meter, yang mana lenyapnya jejak-jejak lingkaran itu akan ditandai dengan tumbuhnya sejumlah rumput di dalam area lingkaran dalam. 

Fenomena yang belum terjawab hingga saat ini


Jejak lingkaran-lingkaran itu merupakan salah satu fenomena alam yang tergolong paling misterius di daratan Afrika, dan ternyata juga masih belum bisa dijelaskan secara ilimiah oleh para ahli, kendati beragam wujud penelitian sudah dilakukan dan diupayakan selama kurun 25 tahun belakangan ini.
Buat anda yang penasaran dengan fenomena misterius ini, lingkaran-lingkaran asing tesebut bisa anda temukan yaitu sekitar 100 mil masuk ke wilayah pedalaman Afrika Selatan, yang tepatnya ada di sebuah wilayah yang membentang hingga 1.500 km di sebelah selatan wilayah Angola, Afrika Selatan. Wilayah tersebut termasuk salah satu wilayah yang sangat terpencil dan juga sangat liar alias tidak ramah. Lingkaran-lingkaran misterius itu sama sekali tidak bergerak setelah 22 tahun lamanya, dan mereka tetap ada pada tempat yang sama. Fenomena kemunculan lingkaran-lingkaran misterius itu telah dipelajari semenjak dilaporkan petama kali pada awal tahun 1971 yang lalu, namun lagi-lagi belum ada satupun bukti nyata yang mampu menjawab mengenai alasan kemunculannya.

Fenomena yang disebabkan oleh sekumpulan peri dan UFO ?


Sebagaimana yang sudah dilansir beberapa media ilmiah, bahwa tidak sedikit pihak yang juga mengklaim bahwasanya fenomena aneh ini disebabkan oleh jenis semut tertentu, kemudian ada yang menganggap fenomena itu disebankan oleh gejala racun radioaktif yang telah dilepaskan oleh salah satu jenis tanaman endemik beracun bernama Damara Euphorbia.

Namun, ada juga hasil penelitian ilimiah yang menghasilkan sebuah penjelasan yang lebih masuk akal dan bisa dipercaya untuk menjawab fenomena lingkaran peri ini. Di mana ada seorang ahli biologi asal Jerman bernama Profesor Norbert Juergens, yang telah menemukan bahwa fenomena misterius dan unik itu sebenarnya merupakan hasil dari sebuah rekayasa ekologi yang sifatnya sangat canggih, di mana rekayasa ekologi itu dilakukan oleh sejenis rayap pasir yang bernama Psammotermes Allocerus. Rayap pasir itu dapat kita temukan pada hampir 80% sampai 100% dari area lingkaran, dan jenis rayap ini merupakan satu-satunya jenis serangga yang ditemukan hidup di semua fenomena misterius itu. Rayap-rayap itu sengaja menciptakan lingkaran-lingkaran dengan cara memakan vegetasi dan beberapa tumbuhan yang memang tumbuh di sekitar koloni mereka. Kemudian rayap-rayap itu menggali tanah pada daerah itu sehingga secara alami terbentuk pola-pola lingkaran yang unik.

Namun, lagi-lagi hasil penelitian itu masih berupa hipotesis, selama beberapa tahun belakangan ini fenomena itu masih juga membuat para ilmuwan merasa kebingungan. Ribuan buah lingkaran yang ada di tanah tandus itu masih menjadi misteri "lingkaran peri" yang tak kunjung terjawab hingga saat ini. Beragam macam teori konspirasi pun bermunculan, ada yang beransumsi bahwa tanah di daerah itu memilii kandungan radioaktif yang sangat kuat, ada juga yang menganggap fenomena itu deisebabkan oleh gejala meteorit dan tempat persinggahan UFO. Sementara itu, mitos penduduk lokal meyakini bahwa ada seekor naga api yang bersemayam di inti bumi yang menyebabkan munculnya lingkaran misterius itu, ada juga yang menyebutkan bahwa fenomena aneh itu disebabkan oleh peradaban kaum peri yang keberadaannya sulit dilacak oleh manusia.

Misteri yang akhirnya mulai terjawab setelah sekian lama


Pada akhirnya, sejumlah penelitian yang kembali dilakukan oleh para profesor asal Jerman sedikit demi sedikit berhasil mengungkap misteri itu setelah sekian lama. Setelah dilakukan penelitian intens selama enam tahun lamanya, pada akhirnya berhasil mengatakan bahwa spesies rayap yang tadi sudah kita bicarakan itulah yang bertanggung jawab atas fenomena misterius ini.

Setelah dilakukan pemeriksaan kepada ratusan lingkaran itu, mereka berhasil menemukan bahwa rayap jenis Psammotermes Allocerus itu adalah satu-satunya spesies makhluk hidup yang konsisten ada di area itu. Menurut beberapa teori, rayap pasir itu sengaja memakan bagian akar tanaman yang pada akhirnya tanaman-tanaman itu menjadi mati. Hal itu dilakukan oleh rayap-rayap tersebut dengan tujuan untuk membangun semacam perangkap air, yang mana naluri itu sangat mirip dengan hewan berang-berang yang selalu membuat bendungan untuk tujuan tertentu.

Para peneliti dari Jerman tersebut juga menyimpulkan bahwasanya lingkaran peri itu sejatinya juga sebuah contoh mengagumkan dari kegiatan rekayasa ekologi yang dilakukan sekumpulan rayap pasir, dengan tujuan untuk bisa mempertahankan asupan air yang sangat berharga di dalam wilayah yang sangat gersang.

Next article Next Post
Previous article Previous Post
 
close
Banner iklan