Asiaforbet

Wednesday, May 30, 2018

author photo
Budaya adalah salah satu bagian yang sangat penting di dalam peradaban manusia. Di antara banyaknya ritus dan budaya yang adalah di dalam peradaban manusia itu, ada banyak di antaranya yang memiliki kekhasan, keekstiman serta keunikan yang luar biasa. Ada yang sengaja melubangi bibir bagian bawah hingga dapat dipasangi dengan lempengan besi ataupun lempengan kayu yang memiliki diameter yang cukup lebar. Berikut di bawah ini bisa anda simak beberapa di antara tradisi serta ritual yang tergolong aneh, unik, dan ekstrim :

Tradisi Mardudjara Circumcision Aborigin Australia


Ritual sunat bagi suku Mardudjara agak sedikit berbeda dari biasanya. Ketika para pemuda suku Mardudjara sudah mendekati umur dewasa, para pemuda tersebut di haruskan bersunat, yaitu sekitar umur 15 - 16 tahun. Dalam ritual sunat ini sang pemuda ditelentangkan di dekat api unggun, kemudian dada si pemuda tersebut di duduki oleh kepala suku dengan menghadap ke arah kemaluan si pemuda tersebut. Kemudian kulit kemaluannya di potong dengan menggunakan pisau yang sudah dijampi-jampi. Tapi proses ritual tidak berhenti sampai disini. Setelah proses pemotongan tersebut selesai si kepala suku memerintahkan si pemuda untuk membuka mulut dan kemudian si pemuda di haruskan menelan kulit kemaluannya sendiri tanpa harus dikunyah.

Tradisi Kayan


Para kaum wanita yang ada di peradaban Thailand Utara dikenal menggunakan sebuah cincin dari bahan logam kuningan untuk mereka kenakan pada bagian leher mereka, sehingga membuat mereka memiliki leher yang kian memanjang ke atas. Para kaum perempuan di sana juga sering dinamai dengan "si leher panjang" atau " perempuan jerapah ". Bagaimana tidak, tercatat bahwa mereka dapat mengenakan cincin hingga berjumlah 25 kumparan, dan gilanya, cincin-cincin itu ada yang tidak akan pernah dilepaskan hingga mereka mati.

Anak-anak perempuan akan diberikan cincin pertama mereka di pada usia 5 tahun, setelah beberapa waktu cincin baru akan secara perlahan ditambahkan waktu demi waktu. Dalam kenyataannya, para kaum perempuan di kebudayaan Kayan yang tidak punya leher yang memanjang, maka sebagai gantinya mereka harus bekerja ke spesialisasi yang lainnya.

Tradisi Sambia Papua New Guinea


Suku Sambia di pedalaman Papua new guinea memiliki ritual kedewasaan yang terbilang unik dan ekstrim. Pada permulaan anak laki-laki yang berumur 7 tahun akan di pisahkan dari ibunya dan di tempatkan di sebuah pondok yang semuanya adalah laki-laki. Setelah dipisahkan dari wanita-wanita, anak-anak muda akan mengikutii beberapa ritual yang terbilang berbahaya. Yang pertama adalah penyedotan darah dari hidung dengan cara menusukan rumput tajam ke dalam hidung sang bocah sampai darah mengalir dengan deras. Dan kemudian anak-anak tersebut dipukuli oleh banyak orang laki-laki dewasa. Yang kedua adalah anak-anak tersebut di haruskan meminum air sperma dari tetua-tetua adat suku Sambia. Tujuan dari ritual ini adalah untuk menguatkan anak-anak mereka dan mempersiapkan mereka untuk hidup sebagai prajurit.

Tradisi memanjangkan telinga Suku Masai


Budaya untuk memanjangkan daun telinga ini adalah asli dari kebudayaan Suku Masai di Kenya, dan juga Suku Huaorani di Amazon. Di mana tradisi ini merupakan tradisi yang memang sangat umum digunakan di sana. Mereka sengaja mempraktekkan tradisi ini karena memang karena beragam alasan khusus, seperti alasan Agama, keperluan upacara adat, untuk kebutuhan ilmu perdukunan, memningkatkan gairah seksualitas, dan juga dipercaya bisa menambah segi keindahan tubuh.

Tradisi Suku Apatani di India


Suku Apatani yang letaknya ada di lembah Ziro, yang juga merupakan negara bagian dari Arunachal Pradesh timur laut India. Di mana mereka mempraktekkan sebuah tradisi cukup ekstrim, yaitu dengan para kaum wanita-wanitanya untuk mengenakan sebuah colokan kayu berukuran lumayan besar pada bagian hidung mereka. Tradisi itu telah mereka terapkan yaitu sudah sekitar ratusan tahun yang lalu secara turun-temurun dan masih dilestarikan hingga kini.

Tradisi unik dan eketrim untuk menuju kedewasaan yang dilakukan para remaja dari suku Apatani ini adalah dengan cara membuat goresan luka pada bagian dahinya. Kebanyakan anak laki-laki serta kaum perempuan suku Apatani memang tidak merasakan sakit pada saat melaksanakan ritual ekstrim ini. Prosesnya umayan mengerikan, di mana seorang dukun setempat akan menggunakan sebuah pisau yang membara panas untuk membuat 3 buah goresan luka pada bagian dahi mereka. Dan yang gilanya, jika mereka meringis ataupun malah menangis, maka mereka akan merasakan malu di depan masyarakat sekitar.

Festival Vegetarian Phuket, Thailand


Untuk kebanyakan orang, ritual yang satu ini memang tergolong sangat ekstrim. Namun untuk warga Thailand sendiri, tradisi ekstrim ini sudah biasa dan menjadi tontonan yang sangat menghibur. Bagi para orang yang terlibat di dalamnya, mereka sudah benar-benar mengabaikan rasa sakit. Ritual yang satu ni merupakan sebuah ritual tahunan yang sengaja dilakukan di depan khalayak umum guna mengumumkan pada seluruh masyarakat bahwa mereka yang terlibat di dalamnya sudah menjadi manusia yang dewasa.

Festival vegetarian di Phuket ini memang merupakan bagian dari tradisi masyarakat tionghoa yang ada di sana. Festival ini biasanya diadakan di sebuah pulau di wilayah Thailand Selatan Phuket. Hal yang paling mengesankan adalah bagian prosesinya yang diadakan nyaris setiap pagi selama sepuluh hari penuh festival itu berlangsung. Beragam jenis media benda tajam (yang kebanyakan adalah logam) ditusukkan dengan melalui pipi para pelaku ritualnya, yaitu sebagai wujud pengabdian diri bagi seluruh leluhur dan masyarakat. Ritual gila yang lainnya adalah dengan berjalan tanpa alas kaki tepat di atas jajaran bara panas.

Tradisi memasang plat bibir, Sudan dan Ethiopia


Pemasangan pelat pada bagian bibir, yang juga dikenal sebagai plug bibir, adalah sebuah tradisi dalam modifikasi tubuh. Semakin besar cakram yang dipakai, (biasanya berbentuk melingkar dan terbuat dari bahan tanah liat serta kayu), kemudian akan dimasukkan dalam lubang tindik pada bibir bagian atas dan juga bagian bawah. Bukti dalam penemuan arkeologi mengatakan tradisi ekstrim ini telah dilakukan sejak ribuan tahun yang lalu di wilayah Sudan dan wilayah Ethiopia.

Di Afrika, pemasangan piring pada bibir bawah biasanya dikombinasikan dengan melakukan proses eksisi dari dua buah gigi depan bagian bawah orang yang diritualkan. Di antara orang-orang kaum Sara dan kaum Lobi, gilanya pelat piring juga akan dimasukkan pada bibir bagian atas. Suku-suku yang lainnya, seperti suku Makonde, pemakaian pelat piring hanya diterapkan pada bibir bagian bawah saja. Pada banyak sumber yang jauh lebih tua juga dilaporkan bahwasanya ukuran dari pelat piring itu juga merupakan tanda bersifat penting dalam strata sosial dan ekonomi dalam kehidupan mereka.

Next article Next Post
Previous article Previous Post
 
close
Banner iklan