Thursday, August 30, 2018

Inilah Lima Ritual Kedewasaan Sadis dan Mengerikan oleh Suku-Suku Pedalaman

Ada beragam ritual kedewasaan sadis yang ada di berbagai belahan dunia. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa tiap-tiap kebudayaan dan tradisi dari tiap negara berbeda di dunia mempunyai sisi gelapnya masing-masing. Bagi mereka yang melakukan ritual tersebut tentu melihatnya sudah biasa, bahkan menjadi kewajiban tersendiri yang mau tidak mau harus dilakukan. Pasalnya, ritual yang dilakukan sudah menjadi tradisi dan turun temurun dari nenek moyang mereka. Meskipun terkesan sadis,sakit, dan mengerikan, tetapi tetap dilanjutkannya.

Berbeda dengan orang dari negara atau kebudayaan lain yang memandang ritual kedewasaan sadis tersebut. Tentu di dalam hati akan berkata ‘gila nih orang’, dikarenakan ritual yang dilakukannya tidak sesuai logika pikir manusia normal pada umumnya. Kita yang di luar kebudayaan dan tradisi tersebut tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya dapat melihat dan membaca ceritanya saja. Meskipun terlihat mengerikan, tetapi tidak ada salahnya Anda membaca dan menetahui beberapa ritual kedewasaan sadis dari berbagai pelosok negara di dunia ini. Minimal menambah pengetahuan Anda akan fenomena dan kejadian aneh dan nyeleneh dari seluruh dunia. Selamat membaca!

Bungee jumping ala suku Vanuatu di Selatan Samudra Pasifik


Bungee jumping merupakan salah satu olah raga ekstrem yang sudah populer di tengah masyarakat. Kegiatan yang memompa adrenalin tersebut tidak sedikit orang menyukainya, baik pria ataupun wanita. Anda yang belum pernah melakukannya tentu merasa takut saat melihat seseorang terjun dari ketinggian tertentu dengan hanya diikat kedua kakinya saja. Namun, itulah yang menjadi daya tarik tersendiri bagi banyak orang untuk mencobanya.

Ternyata, kegiatan bungee jumping tersebut juga dilakukan oleh suku Vanuatu yang mendiami kawasan di sebelah selatan Samudra Pasific. Akan tetapi, mereka melakukannya sebagai ritual kedewasaan sadis yang harus dilewati oleh anggota suku yang sudah menginjak dewasa umurnya. Diketahui bahwa suku Vanuatu adalah salah satu suku kuno dan jauh dari peradaban modern. Seorang pria dari suku tersebut harus melakukan ritual khusus jika mau disebut sudah dewasa. Bila mampu melewati ritualnya, sang pria mendapatkan strata sosial yang lebih tinggi. Dia pun dipersilakan untuk menikahi wanita yang diinginkannya. Namun demikian, ritualnya sangat menguji nyali. Sang pria harus terjun dari ketinggian sekitar 30 meter hanya dengan diikat kedua kakinya dengan akar-akar pohon yang kuat. Saat terjun, tangannya harus bisa menyentuh tanah di bawahnya meskipun hanya sedikit. Jika mampu melakukannya, dia dianggap sudah dewasa. Namun jika belum mampu, dia belum dianggap sebagai pria sejati.

Ritual menyakitkan ala suku Matausa, Papua Nugini


Untuk ritual kedewasaan sadis yang satu ini, memang tidak diragukan lagi kesakitan yang akan dirasakan oleh orang yang melakukannya. Bagaimana tidak? Para pria dari suku tersebut harus menyakiti tubuhnya sendiri agar bisa disebut sudah dewasa. Pria tersebut harus memasukkan semacam tongkat kecil panjang ke dalam mulut hingga menyentuh tenggorokannya. Selanjutnya, tongkat tersebut juga dimasukkan ke dalam hidung. Tujuannya adalah keluar darah dari mulut dan hidungnya. Belum sampai disitu perbuatan sadisnya, sang pria juga diharuskan menusukkan pada lidahnya sendiri benda tajam, seperti anak panah atau sejenisnya. Dengan begitu, darah segar mengucur dari lidahnya yang sobek. Jika darah yang keluar dari mulut, hidung, dan lidah cukup banyak, pria yang melakukannya baru bisa dianggap dewasa. 

Ritual tersebut dilakukan oleh pria dewasa di suku Matausa sejak dulu hingga sekarang. Menurut kepercayaan mereka, para pria terlahir dari rahim seorang wanita. Mereka menganggap darah wanita itu tidak murni dan kotor, sehingga harus dikeluarkan.Nah, cara mengeluarkan darah kotornya dengan melakukan ritual mengerikan tersebut. 

Aksi Debus ala suku Mandan, Amerika


Ritual yang dilakukan oleh para pria dewasa suku Mandan di pedalaman Amerika juga tidak kalah sadis dan mengerikannya. Para pria harus mampu melakukan dan melewati ritual tersebut dengan sempurna jika mau disebut sudah dewasa. Mereka harus menahan sakit karena bagian tubuhnya disakiti sendiri sebagai bukti bahwa sang pria sudah dewasa dan mampu melakukan apa saja, tak terkecuali menahan rasa sakit.

Ritual yang mereka lakukan mirip atraksi Debus di provinsi Banten. Dimana bagian tubuhnya dipedang, digolok, atau dipukul berulang kali tetapi tak merasakan sakit. Hal itu terjadi karena pemain debusnya sudah diberi mantra dan melakukan latihan kekebalan diri. Berbeda dengan aksi debus yang dilakukan oleh pria dari suku Mandau. Mereka tidak mempunyai kesiapan apapun untuk melakukan aksi melukai diri sendiri seperti itu. Tidak ada juga mantra atau sihir yang terucap karena intinya adalah bisa merasakan rasa sakit. 

Pertama-tama, pria yang ingin melakukan ritual harus berpuasa tiga har berturut-turut. Pada heri keempat, ritual kedewasaan sadis pun dilakukan. pada bagian dada dan bahunya akan ditusuk dengan kayu. Selanjutnya, kayu tersebut dikaitkan ke sebuah tali, sehingga badan sang pria otomatis tergantung dengan bagian dada dan punggungnya tertusuk. Dia harus bisa menahan sakit dan tidak boleh berteriak hingga darah mengucur dari tubuhnya. Setelah pingsan, pria tersebut baru diturunkan dan dinyatakan berhasil melewati ritualnya.

Menahan gigitan semut peluru, suku Satere Mawe, Amazon



Sebuah ritual kedewasaan sadis yang sebenarnya cukup unik, tetapi tetap terasa sakit dan harus ditahan rasa sakitnya sekuat tenaga. Para pria suku Satere Mawe yang mendiami di pedalaman hutan Amazon yang melakukan ritual tersebut. Sang pria diharuskan mencari semut peluru yang konon merupakan jenis semut paling mematikan di dunia. Semutnya berukuran besar, sehingga gigitannya sangat menyakitkan. Semut peluru tersebut harus ditemukan dan dimasukkan ke dalam wadah yang terbuat dari anyaman bambu. Bukan hanya satu semut saja yang dimasukkan, tetapi cukup banyak. Setelah berhasil mencari semutnya, sang pria di hadapan para ketua suku memasukkan kedua tangannya ke dalam wadah tersebut. Kerumunan semut peluru yang agresif pasti akan menggigit kulit tangannya. Meskipun digigit, sang pria tidak boleh berteriak atau mengeluh. Dia harus menahannya sekitar 10 menit saja. Jika mampu melakukannya, pria tersebut baru bisa dianggap dewasa.

Menyayat tubuh menyerupai kulit buaya oleh suku Sepik, Papua Nugini


Masih ada satu ritual kedewasaan sadis lagi yang diinformasikan di sini. Ritual ini dilakukan oleh suku Sepik yang mendiami pedalaman hutan di Papua Nugini. Perlu diketahui bahwa suku Sepik sangat percaya bahwa hewan buaya itu suci. Maka dari itu, mereka menyembah dan selalu mensucikannya. Maka dari itu, para pria dari suku Sepik yang mau disebut dewasa harus melakukan ritual dengan menyakiti bagian tubuhnya terlebih dulu. Mereka menyayat kecil-kecil kulit tubuhnya dengan pisau agar terlihat seperti kulit buaya. Ritual ini bukan hanya dilakukan oleh para ketua suku, tetapi juga pria dewasa di sukunya. Jika tak berani melakukannya, berarti pria tersebut belum dianggap dewasa dan tidak boleh menikahi wanita dari suku Sepik.

Itulah kelima ritual kedewasaan sadis yang dilakukan oleh beberapa suku tradisional dan pedalaman dari pelosok dunia. Begitu mengerikan dan menyakitkan, bukan?