Wednesday, August 29, 2018

Senjata Suku Dayak Mengerikan Yang Ditakuti Musuh Sepanjang Zaman

Apa yang menarik dari senjata suku Dayak? Anda yang bukan dari suku Dayak tentu belum mengetahui seluk-beluk serta pernak-pernik dari senjata yang digunakan mereka. Bahkan, tidak menutup kemungkinan anak keturunan dari suku Dayak terutama para prianya. Mereka tidak mengetahui asal-usul dan rahasia di balik semua senjatanya. Mungkin dikarenakan pengaruh globalisasi dan westernisasi yang melanda negara-negara di Asia Timur, tak terkecuali Indonesia. Kebudayaan masyarakat lokal yang sudah diwariskan secara turun temurun, sedikit demi sedikit luntur. Hal itu dikarenakan anak-anak mudanya sudah tidak mempedulikan warisan kebudayaan daerah tempat tinggalnya masing-masing, yang seharusnya dilestarikan agar tidak hilang ditelan zaman.

Begitu juga kebudayaan suku Dayak yang masyarakatnya mendiami asli pulau Kalimantan. Suku yang terkenal dengan sangar dan menakutkan. Apalagi saat bertarung dengan semua musuh-musuhnya. Suku dayak bukan hanya mengandalkan senjata tradisional yang mereka gunakan saat bertarung melawan musuh. Namun, kekuatan sihir yang ada di senjata sekaligus orang yang menggunakannya. Lalu, apa saja senjata suku Dayak yang sangat mengerikan hingga ditakuti banyak orang itu? Berikut akan diberikan informasi selengkapnya yang semoga bermanfaat dan menambah wawasan Anda sekalian.

Mandau


Tiap daerah atau suku adat pasti memiliki senjata utama. Misalnya, Aceh memiliki Rencong, Jawa memiliki Keris, dan lain sebagainya. Begitu juga suku Dayak memiliki senjata utama dan khasnya sendiri bernama Mandau. Sejenis pedang yang dibat khusus oleh suku Dayak. Dikatakan khusus karena pembuatannya harus melalui ritual adat yang masih sangat kental dengan ilmu sihir dan mistis. Selain itu, orang yang membuatnya atau sering disebut pandai besi juga bukan orang sembarangan. Dia bersama bahan besi serta alat-alat yang digunakan sudah diberi mantra-mantra khusus oleh ketua atau pemimpin adat. Setelah jadi, Mandau yang dibuat tersebut akan disimpan dan hanya digunakan saat perang melawan musuh saja. Jadi, tujuan utama dari pembuatan Mandau tersebut adalah sebagai senjata utama untuk menghabisi semua musuh.

Bahkan, ketajaman Mandau saat membabat semua musuh suku Dayak sudah terkenal sejak dulu. Sejak zaman penjajahan Belanda dan sangat ditakuti oleh tentaranya. Pada saat menghadapi suku Dayak yang sudah siap bertempur, mereka seperti sudah dihipnotis dan tidak takut pada apapun yang ada di depannya meskipun musuhnya berjumlah banyak. Meskipun menghadapi musuh yang bersenjata api karena tidak menutup kemungkinan orang-orang Dayak tersebut tubuhnya sudah kebal karena disihir atau diberi mantra tertentu.

Sipet atau Sumpit


Masih ada senjata suku Dayak lainnya yang tidak kalah mengerikan dan mematikan. Senjata yang satu ini khusus untuk penyerangan jarak jauh. Senjata yang bernama Sipet atau Sumpit. Senjatanya terbuat dari bambu yang sudah didesain khusus dengan lubang di tengahnya. Orang Dayak akan memasukkan sebuah jarum ke dalam batang bambunya, lalu meniupnya sekuat tenaga. Dengan begitu, jarum akan mengarah pada target yang dituju. Jarum yang ditembakkan bukan sembarangan karena sudah diberi racun alami yang sangat mematikan. Jadi, seseorang yang terkena jarumnya hanya dalam hitungan detik saja akan lumpuh dan pingsan. Jika tak segera ditolong, nyawa orang tersebut bisa hilang alias meninggal dunia. Sumpit lebih berbahaya daripada senjata api. Apalagi suku Dayak yang mendiami hutan belantara Kalimantan sangat cocok menerapkan strategi perang gerilya yang sunyi senyap, tetapi sangat mematikan. Apalagi senjata Sumpit tersebut juga tidak berbunyi keras.

Orang Dayak yang menggunakan sumpit juga sudah terlatih, sehingga kemungkinan kecil meleset sasarannya. Sekarang, senjata sumpit banyak digunakan untuk berburu di hutan karena memang tidak ada lagi musuh yang harus dilawan. Namun demikian, orang-orang Dayak akan selalu siap menggunakan semua senjata mematikan yang dimilikinya jika ada orang atau musuh mengganggunya. Jadi, jangan menyepelekan orang Dayak, terutama senjatanya yang sangat mematikan.

Lonjo


Lonjo adalah senjata suku Dayak yang masih tradisional, tetapi ketajamannya saat digunakan tidak boleh diremehkan. Lonjo berwujud tombak panjang dengan mata tombaknya berbentuk beberapa macam. Seperti halnya Mandau yang hebat, Lonjo yang digunakan untuk berperang bagi orang Dayak dikeramatkan. Senjata tersebut dipercaya memiliki energi dari arwah orang-orang yang sudah dibunuh dengan Lonjo. Semakin banyak nyawa musuh yang tewas karena senjata tombak ini, maka energi yang ada pada Lonjo juga semakin besar. Bahkan, energi tersebut bisa merasuk ke dalam tubuh orang yang menggunakannya, sehingga lebih kuat dan kebal terhadap senjata musuh. 

Untuk sekarang, Lonjo sudah jarang digunakan untuk berperang dan membunuh musuh. Orang-orang Dayak lebih banyak menggunakannya untuk berburu hewan di hutan untuk dijadikan santapan. Bahkan, Lonjo juga dijadikan barang souvernir atau kenang-kenangan bagi wisatawan yang berkunjung ke Kalimantan. Pasalnya, Lonjo dapat dihias dengan pernak-perniknya yang cantik, sehingga cocok menjadi barang pajangan di rumah. Tentu saja Lonjo sebagai barang souvernir tersebut berbeda dengan Lonjo yang benar-benar untuk berperang bagi orang Dayak.

Dohong


Dohong adalah senjata suku Dayak yang mungkin masih asing di telinga banyak orang. Memang Dohong bukan senjata utama, tetapi hanya sampingan saja. Padahal, Dohong dilihat dari sejarah suku Dayak lebih dulu ada dan dijadikan senjata daripada Mandau. Namun, kepopulerannya memang tidak setinggi Mandau. Lagipula, Dohong dilihat dari bentuknya bukan senjata perang karena ukurannya yang lebih kecil. Memang benar, bentuk Dohong seperti keris tetapi mempunyai lekukan berbeda. Lekukan-lekukan khas suku Dayak yang juga terdapat hiasan di sarung senjatanya. Dikarenakan indah seperti itu, Dohong juga bisa digunakan oleh wanita suku Dayak. Ukurannya yang kecil dan segi estetikanya yang bagus, memang sangat cocok sebagai senjata tangan wanita Dayak. 

Seiring perkembangan zaman, suku Dayak pun tak lagi berperang dan melawan musuh-musuhnya. Sudah banyak dari orang Dayak yang bersosialisasi dengan masyarakat kota. Bahkan, tidak sedikit yang bekerja di kota. Senjata-senjata yang dulu dibawa untuk melawan musuh, sekarang hanya disimpan dan dipajang saja. Bukan hanya itu, orang-orang Dayak juga membuat tiruan senjatanya sebagai barang cinderamata yang nanti dijual di kota untuk para wisatawan. Tak terkecuali Dohong.

Demikian keempat senjata suku Dayak yang sangat ditakuti oleh musuh-musuhnya dari dulu zaman penjajahan Belanda hingga sekarang zaman reformasi. Lalu, apakah Anda tertarik untuk memiliki salah satu atau lebih senjata tersebut sekedar dijadikan hiasan di rumah? Jika ingin, silakan segera rencanakan berlibur ke pulau Kalimantan.