Kisah Luar Biasa Mereka Yang Berhasil Bertahan Hidup Dari Cuaca Extreme

Ada kalanya dalam kehidupan ini rasa aman yang biasanya kita dapat mendadak hilang. Biasanya rasa aman itu ada saat kita berada di rumah, dan kemudian rasa itu hilang saat kita tertimpa bencana. Karena hilangnya rasa aman itu, mau tak mau kita harus berusaha dengan berbagai cara agar bisa tetap bertahan hidup. Bicara tentang bertahan hidup, berikut ini ada beberapa kisah luar biasa dari mereka yang berhasil bertahan hidup dari keadaan yang cukup ekstrem. Penasaran dengan kisah mereka? Langsung simak kisahnya berikut ini.

Tim rugby Uruguay di Penerbangan 571

Tim rugby Uruguay di Penerbangan 571

Kisah bertahan hidup yang pertama datang dari tim rugby asal Uruguay, yang pada tanggal 13 Oktober 1972 berada dalam Penerbangan 571. Penerbangan itu membawa tim rugby beserta keluarga dan teman-teman mereka. Total ada 45 penumpang dalam penerbangan tersebut.

Namun, nasib naas menimpa penerbangan itu, karena pesawat yang dinaiki tim rugby tersebut jatuh di Pegunungan Andes, Chile. Akibat kecelakaan tersebut, beberapa orang tewas, dan menyisakan 29 penumpang selamat. Namun, masalah tak selesai sampai di situ. Karena medan yang cukup ekstrem, yaitu pegunungan es yang dingin, satu persatu korban yang selamat pun tak mampu bertahan hidup. Diketahui ada 8 orang tewas karena tertimbun salju, sementara lainnya meninggal karena kedinginan. Akhirnya, hanya tersisa 16 orang dari penerbangan tersebut.

Kengerian pun mulai dari sini. Meskipun kabar dari jatuhnya pesawat tersebut sudah ada di berbagai media, dan pencarian sudah dikerahkan, sayangnya pencarian itu dihentikan oleh pemerintah setelah 8 hari pencarian, atau 11 hari sejak mereka jatuh di gunung. Pihak berwenang menganggap semua korban pasti tidak ada yang selamat. Bisa dimaklumi, lokasi pengunungan itu sangat sulit diakses, sementara dari udara terlihat semua berwarna putih karena tertutup salju.

Para korban ini hanya memakai pakaian seadanya, tidak ada makanan, dan pastinya siapapun tak bisa berpikir normal dalam kondisi yang sedemikian rupa. Mereka hanya berpikir bagaimana caranya untuk bisa tetap hidup. Langkah nekat pun harus dilakukan, yaitu dengan memakan rekan mereka yang telah tewas. Langkah ini memang berat, namun harus dilakukan jika mau hidup. Biasanya, dalam keadaan terjepit seperti itu, orang baru mengerti betapa berharganya sebuah kehidupan.
Setelah bertahan hidup selama 72 hari, akhirnya tim SAR pun menemukan tim rugby Uruguay yang selamat. Itupun setelah dua orang dari korban, Nando Parrado dan Roberto Canessa, berjuang mencari bantuan selama 12 hari menempuh jalan sulit. Penduduk setempat, Sergio Katalan, menemukan mereka. Akhirnya, semua korban yang berjumlah 16 orang itu dibawa ke rumah sakit Santiago dan dirawat karena menderita penyakit ketinggian, dehidrasi, radang dingin, patah tulang, kudis dan gizi buruk.

Kisah Mauro Prosperi 

Kisah Mauro Prosperi

Kisah lain dari orang yang berhasil bertahan hidup dari keadaan ekstrem adalah kisah dari seorang pelari bernama Mauro Prosperi. Mauro Prosperi adalah seorang atlet marathon tingkat dunia, ia mendaftarkan diri untuk ikut dalam lomba Marathon Des Sables, lomba maraton yang dianggap paling berat dibandingkan semua lomba maraton yang pernah ada. Dikatakan paling berat karena arena lomba lari maraton itu berada di padang pasir. Parahnya lagi, padang pasir yang jadi arenanya adalah Gurun Sahara, gurun pasir terbesar di dunia.

Lomba Marathon Des Sables yang diikuti Mauro pada tahun 1994 itu bisa jadi maraton terakhir dalam hidupnya. Pasalnya, di tengah perlombaan, padang pasir itu dilanda badai pasir, yang tentu saja membuat para pesertanya sulit untuk melihat, dan jadi kehilangan arah. Gara-gara badai itu, Mauro pun terpisah dari peserta lainnya. Dia tinggal sendirian, tanpa tahu di mana dirinya. Yang dia tahu dia ada di tengah-tengah Gurun Sahara.

Dia akhirnya berlari 186 mil ke arah yang salah dan malah menuju ke Aljazair. Bekal yang dibawanya hanya cukup untuk sehari saja, meskipun ia sudah berusaha mengirit perbekalannya, namun tetap saja habis sebelum 2 hari. Dalam keadaan haus, ia memutuskan untuk memakan hewan apa saja yang ditemuinya dan meminum air seninya sendiri. Ia memakan bahkan memakan ular gurun berbisa yang berhasil ditangkapnya. Dia juga memakan kelelawar yang ditemuinya saat berteduh di puing-puing masjid tua.

Dalam kondisi tersiksa berat, dan juga pengaruh halusinasi, Mauro pun mengambil keputusan untuk bunuh diri agar penderitaannya segera berakhir. Ia memotong nadi pergelangan tangannya, namun ternyata darah tidak keluar dari nadinya. Dehidrasi parah membuat darahnya sedemikian kental sehingga menggumpal di urat nadinya.

Setelah 9 hari berada di gurun pasir yang tak jelas arahnya, Mauro berhasil ditemukan oleh sebuah keluarga yang sedang melakukan perjalanan melintasi padang pasir untuk pindah rumah. Mereka pun bergegas membawa Mauro ke kamp militer di Aljazair untuk diobati.

Nasib baik dan mukzizat berpihak kepadanya, karena nyawanya berhasil diselamatkan meskipun ia telah kehilangan berat hampir 20 kg selama tersesat. Padahal, dia sudah tersesat selama 9 hari di gurun pasir, dan dengan perbekalan yang minim. Dalam kondisi seperti itu, mungkin manusia lainnya sudah tak akan selamat.

Kisah Ada Blackjack

Kisah Ada Blackjack

Ada Blackjack adalah seorang wanita eskimo yang dipekerjakan oleh tim penjelajah yang berlayar untuk mengekspedisi sebuah pulau bernama Wrangel Island di kawasan Arktik yang tengah menjadi persengketaan Kanada dan Inggris. Ada Blackjack bekerja di kapal yang dipimpin Vilhjalmur Stefansson tersebut sebagai koki. Ia bersedia menerima pekerjaan tersebut karena gaji yang didapat nantinya akan digunakan sebagai biaya pengobatan anaknya.

Ternyata, persediaan makanan yang dibawa oleh kapal tersebut hanya cukup untuk 6 bulan saja, padahal perjalanan diperkirakan akan memakan waktu sekitar 1 tahun. Sampai di Wrangel Island total 8 kru termasuk Ada Blackjack dilanda kelaparan karena stok makanan sudah hampir habis.
Karena itulah, 3 dari 8 kru akhirnya memutuskan untuk berlayar kembali untuk mencari pertolongan sementara Ada bersama 4 kru yang lain tetap tinggal di pulau tak berpenghuni tersebut. Sembari menunggu 3 kru tersebut kembali, Ada Blackjack harus bertahan hidup dan turut merawat empat kru laki-laki lain yang sakit. Sayangnya, 4 orang kru yang bersama Ada tewas karena sakit, sementara 3 kru yang tadinya berlayar untuk mencari pertolongan tak pernah kembali. Otomatis, Ada pun tinggal sendirian.

Ada yang notabene satu-satunya wanita dalam ekspedisi tersebut harus berjuang bertahan selama 2 tahun di pulau tersebut sampai akhirnya datang pertolongan dari rekannya dulu di Stefansson. Ia pun kembali dan menerima gajinya serta melanjutkan pengobatan anaknya di Seattle. Secara umum, tak mungkin orang bisa bertahan hidup selama 2 tahun di pulau tak berpenghuni. Namun Ada berhasil melewati semuanya, dan tetap bertahan hidup. Karena itulah, Ada dijuluki sebagai Robinson Crusoe Wanita.

Kisah Aron Ralston

Kisah Aron Ralston

Kisah yang satu ini mungkin yang lebih banyak dikenal dunia, karena pernah difilmkan dengan judul 127 Hours yang rilis pada tahun 2010 lalu. Film tersebut menceritakan tentang Aron Ralston, yang terjebak di Blue John Canyon gara-gara tangannya terjepit batu yang cukup besar. Dia terjebak di sana selama 127 jam, dengan perbekalan makanan dan minuman yang minim.

Berbagai cara pun dilakukan Aron agar bisa terbebas dari sana. Mulai dari berteriak minta tolong, yang tentu saja berakhir gagal karena tak ada orang di dekat tebing di mana dia terjebak, sampai mengangkat batunya dengan tali. Namun, semua usahanya itu sia-sia. Akhirnya, dia pun mengambil langkah terakhir, yang mau tak mau harus dilakukan jika mau bebas dari sana, yaitu memotong tangannya sendiri yang terjepit di batu raksasa itu.

Dengan menggunakan pisau multifungsi buatan Tiongkok, Aron pun berusaha untuk memotong tangannya sendiri. Sayangnya, karena tumpul, usahanya itu gagal. Namun, dia tak menyerah. Dia pun memutuskan untuk mematahkan dua tulang lengan kanannya. Setelah 1 jam berjuang, akhirnya dia bisa lepas dari sana, dan secara ajaib bisa memanjat tebingnya serta mencari pertolongan terdekat.
Kisah Juliane Koepcke

Kisah terakhir adalah kisah dari Juliane Koepcke, seorang warga Jerman yang kala itu berusia 17 tahun. Pada Natal tahun 1971, Juliane bersama ibunya, Maria, dan 90 orang lainnya terbang dari Lima, Peru, dalam perjalanan mereka ke Pucallpa. Naas, pesawat tersebut tersambar petir karena cuaca buruk, dan satu sayapnya putus. Pesawat itu langsung menuju hutan hujan Amazon yang berada di bawahnya. 

Secara ajaib, Juliane menemukan dirinya sebagai satu-satunya yang selamat dari penerbangan LANSA 508. Juliane terluka parah dengan tulang selangkanya patah, luka dalam kaki, dan menderita gegar otak parah. Ketika pesawat itu hancur, gadis remaja itu masih terikat di tempat duduknya lalu jatuh ke tanah. Setengah sadar, Juliane memanggil ibunya tetapi tak ada suara apapun. Dia pun mencari ibunya dan penumpang lainnya, seorang diri, di tengah hutan yang asing baginya.

Namun demikian, Juliane rupanya sudah berpengalaman 1,5 tahun tinggal di sebuah stasiun penelitian hutan hujan. Dia bertahan hidup dengan mengais makanan di reruntuhan pesawat tetapi hanya menemukan sebungkus permen. Akhirnya dia pun memutuskan untuk bertahan hidup dengan memakan ular, yang merupakan hewan yang sering ada di kawasan hutan.

Juliane menyusuri hutan tersebut selama 10 hari untuk bertahan hidup, sampai akhirnya menemukan gubuk kecil. Dia menghabiskan malam di gubuk, dan pada siang hari dia ditemukan oleh sekelompok penebang yang memberinya makanan, merawat lukanya, dan membawanya kembali ke peradaban. Keesokan harinya, Juliane bisa bersatu kembali dengan ayahnya. Sayangnya, ibu Juliane. Maria, tak selamat dari kecelakaan pesawat itu. Diketahui Maria sempat masih hidup setelah kecelakaan, namun karena terluka parah, dia jadi tak bisa bergerak. Maria meninggal beberapa hari kemudian ketika masih di kursi pesawatnya.

Semoga kisah di atas bisa membuat kita jadi lebih menghargai hidup.