Skip to main content

Bangunan Miring Yang Menjadi Rival Menara Pisa

Sebagian besar arsitek membangun sebuah bangunan tentunya harus kokoh dan berdiri tegak menjadi syarat utama agar bangunan tersebut dapat secara aman ditempati. Namun, ada beberap bangunan yang cukup unik berdiri tidak tegak namun miring, seperti yang kita ketahui, salah satunya yaitu Menara Pisa yang terkenal dengan kemiringannya. Uniknya lagi, ternyata di beberapa lokasi di dunia, Menara Pisa bukanlah satu-satunya bangunan miring yang eksis di dunia. Kebetulan saja Menara Pisa menjadi yang paling populer. Beberapa bangunan miring lainnya ini secara tidak sengaja mengalami kemiringan, entah itu berdasarkan faktor struktur bangunan ataupun faktor kesengajaan manusia. Bahkan, ada juga menara yang memiliki kemiringan lebih dari Menara Pisa.

Menara Masjid Agung Al-Nuri

Masjid Agung al-Nuri yang berlokasi di Mosul, Irak dibangung pada tahun 1172 atas perintah Nur al-Din Mahmoud Zangi, sesuai nama yang digunakan untuk Masjid ini. Nur al-Din dulunya adalah seorang penguasa yang memerintah di daerah Mosul dan Aleppo. Ia juga dikenal pada zamannya karena memimpin jihad melawan tentara Salib dalam perebutan daerah Damaskus. Nur al-Din adalah seorang Sunni yang juga dikenal karena usahanya untuk berjuang mempertahankan pemerintahan Sunni dari Syiah. Tidak mengherankan bahwa Abu Bakar al-Baghdadi, pemimpin the Islamic State, memutuskan untuk mengumumkan pembentukan khalifah pada bulan Juli 2014 tepat di dalam masjid agung setelah teroris berhasil menguasai Mosul dari pasukan Irak.

Masjid asli yang dibangun oleh Nur al-Din sebenarnya sudah lama runtuh dan telah diganti dengan menara setinggi 45 meter, demikian juga namanya telah diganti menjadi al-Hadba, namun menara itu tetap dianggap sebagai masjid Nur al-Din karena situs tempatnya sama persis dengan lokasi masjid Nur al-Din dibangun. Awalnya menara ini ramping layaknya bangunan pada umumnya, tidak ada yang mengetahui mengapa menara ini mulai miring yang mulai diamati sejak abad ke-14. Menurut cerita rakyat yang beredar di wilayah tersebut, menara ini miring ketika nabi Muhammad melewati menara itu ketika terangkat ke Surga. Kisah ini jelas tidak benar adanya, karena nabi Muhammad telah meninggal jauh sebelum menara ini dibangun. Kemiringan menara ini diduga disebabkan oleh angin yang kencang dan proses plester yang lemah, sehingga susunan batu bata bata menjadi rapuh.

Selama perang Iran-Irak, bom-bom yang selalu berdatangan di Mosul merusak beberapa pipa bawah tanah yang menyebabkan limbah merembes ke tanah dan merusak fondasi bangunan ini sehingga menambah kemiringan menara al-Hadba. Pada tahun 2012, UNESCO mengungkapkan bahwa menara ini berada dalam ambang kehancuran, ditakutkan jika menara ini akan runtuh karena fondasinya yang makin buruk dan akan memakan korban jiwa. Namun, pada tahun 2017 silam, the Islamic State terpaksa meledakkan menara ini dalam upaya untuk menghentikan tentara Irak untuk merebut kekuasaan menara tersebut.

Menara Bad Frankenhausen

Menara yang terletak di wilayah Bad Frankenhausen, Jerman, ini adalah menara gereja setinggi 56 meter. Menara ini juga berada di ambang kehancuran karena fondasinya yang mulai rapuh, pemerintah setempat pun berupaya untuk melakukan pemeliharaan terhadap menara ini. Menara Bad Frankenhausen memiliki kemiringan 4,8 derajat yang tentunya lebih miring daripada Menara Pisa yang memiliki kemiringan 3,99 derajat. Kemiringan menara ini tercatat dimulai sejak tahun 1640 yang disebabkan karena susunan geografi bawah tanah Bad Frankenhausen. Sekitar 250 juta tahun yang lalu, wilayah ini adalah bagian dari lautan. Airnya kemudian mengering dan meninggalkan endapan garam yang tertutup oleh Bumi selama jutaan tahun. Sekitar 95 juta tahun yang lalu, perbukitan Kyffhauser mengalami kenaikan struktur tanah dan dibentuklah wilayah Bad Frankenhausen yang terletak di lereng selatan bukit ini.

Keadaan awal mula di Bad Frankenhausen ini terbilang cukup kokoh, sehingga dibuat sebuah gereja yang tinggi dan megah. Namun seiring bertambahnya usia Bumi dan perubahan iklim yang ekstrim menyebabkan tanah yang berada di perbukitan Kyffhauser menjadi rapuh dan mengalami keretakan yang memungkinkan air masuk ke dalam tanah. Air yang masuk itu kemudian melarutkan endapan garam yang menjadi fondasi bukit ini, sehingga membuat konstruk tanah di atas melemah dan membentuk lubang besar yang membendung di bawah perbukitan ini. Di tengah kekhawatiran menara miring dan gereja yang akan runtuh kapan saja, dewan pemerintahan kota Bad Frankenhausen mengadakan berbagai macam program untuk menjaga kestabilan menara Bad Frankenhausen.

Pagoda Huzhu

Pagoda Huzhu yang berlokasi di Shanghai, China, dibangun pada tahun 1079 oleh Jendral Zhou Wenda. Pagoda ini dibangun untuk menyimpan lima patung Buddha yang ia terima dari Kaisar Song Gaozong. Awal kemiringan menara ini mulai terlihat sejak tahun 1788, ketika struktur bangunannya rusak karena api yang disebabkan oleh pesta kembang api yang dinyalakan selama festival disekitar Pagoda Huzhu. Kemiringan Pagoda Huzhu semakin memburuk pada abad ke-19 ketika beberapa penduduk desa menggali lubang di sekitar kaki menara karena desas-desus yang mengatakan bahwa terdapat banyak emas yang terkubur di kaki-kaki Pagoda Huzhu. Akibat penggalian tersebut menyebabkan timbulnya lubang yang tidak seimbang pada salah satu sisi bangunan ini yang berakibat pada kemiringan Pagoda Huzhu.

Saat ini, kemiringan Pagoda Huzhu adalah 7,1 derajat, hampir dua kali lebih miring dari Menara Pisa. Meskipun kemiringan yang cukup curam dan sudah mengalami kerusakan yang cukup parah di bagian kakinya, pemerintah setempat tetap melakukan pemeliharaan terhadap ekosistem lingkungan di sekitar bangunan ini, sehingga mengurangi risiko kerusakan lingkungan yang semakin parah. Selain itu, dilakukan juga pengecekan berkala terhadap fondasi struktur Pagoda Huzhu demi menjaga sejarah bangsa yang dituangkan melalui bentuk menara kuno yng akan dijaga terus sampai berumur 1000 tahun. Untuk konstruk tanah tempat berdirinya Pagoda Huzhu berasal dari dua jenis tanah yang berbeda yang memungkinkan struktur tanah  akan terus terjaga kokoh menaungi bangunan ini.

Menara Torun

Menara Torun terletak di Polandia, dibangun sebagai bagian dari tembok kota sekitar abad ke-14. Menara ini memiliki 3 bagian dinding. Salah satu sisinya dibiarkan kosong tanpa dinding untuk memungkinkan mengangkat amunisi lebih mudah dari bawah ke atas menara. Struktur menara ini mulai mengalami kemiringan sejak awal abad pertengahan yang disebabkan karena fondasi bangunan ini berada di atas tanah berpasir. Namun, tetap saja ada cerita rakyat sekitar yang menghubungkan kemiringan bangunan ini ke sesuatu yang bersifat takhayul. Beberapa orang mengatakan bahwa Tuhan membuat menara Torun menjadi miring setelah Copernicus, seorang ahli matematika dan astronom dari Polandia, membuat penemuan yang menentang keberadaan Tuhan.

Menurut cerita rakyat, struktur menara Torun dibangun oleh seorang ksatria yang jatuh cinta pada seorang wanita. Tentunya hal ini melanggar aturan ksatria, para ksatria tidak boleh merasakan jatuh cinta jika masih menyandang gelar ksatria. Mengetahui ada ksatria yang tidak menaati aturan, pihak kerajaan menghukum ksatria itu dengan menyuruhnya membangun sebuah menara Torun. Dengan adanya kisah tersebut, para penduduk lokal menggunakan menara tersebut untuk melakukan uji kebohongan, jika seseorang yang menginjakkan kakinya di dalam menara Torun dapat berdiri tegak, dipastikan orang tersebut jujur dengan perkataannya, sebaliknya jika orang tidak dapat berdiri tegak di dalam menara Torun, orang itu sedang berbohong. Menara Torun dinonaktifkan sebagai tembok kota pada abad ke-18. Dinding keempat ditambahkan dan bangunan ini diubah menjadi penjara wanita, sempat juga digunakan sebagai gudang senjata. Hari ini, menara Torun digunakan sebagai kantor yang dikelola oleh Lemabaga Kebudayaan Kota Torun.

Menara Suurhusen

Menara miring Suurhusen yang terletak di Jerman memegang rekor dunia Guinness untuk bangunan yang paling miring di dunia. Kemiringannya yaitu 5,19 derajat, sebagai pembandingnya yaitu adalah menara Pisa yang memiliki kemiringan 3,99 derajat. Menara Suurhusen adalah sebuah gereja yang dibangun pada Abad Pertengahan di lingkungan yang berawa. Karena kondisi lingkungan yang tidak memungkinkan untuk membangun bangunan besar, para tukang yang mengurus pembangunan menara Suurhusen sengaja menanam pohon ek disekitar fondasi struktur bangunan ini sebelum membangun menara, sehingga menara yang akan dibangun dapat berdiri stabil. Ketika tanah di sekitar menara dikeringkan pada abad ke-18, pohon ek menjadi kering dan menyebabkan menara Suurhusen menjadi miring.

Pada tahun 1970-an, struktur bangunan ini menjadi perdebatan para dewan kota, karena takut akan runtuh. Pemerintah akhirnya mencoba untuk menghancurkan menara Suurhusen agar tidak menjadi kecelakaan yang nantinya akan memakan korban jiwa, namun penduduk sekitar menghentikan proses penghancuran bangunan ini karena mereka merasa menara Suurhusen telah menjadi simbol kota mereka. Akhirnya, menara Suurhusen tidak lagi digunakan sebagai tempat ibadah dan justru digunakan sebagai objek wisata. Demi keamanan para turis dan pengunjung, mereka tidak diizinkan memasuki menara Suurhusen, tidak boleh berjalan terlalu dekat dengan objek wisata. Pemerintah juga membuat sebuah zona aman bagi para pengunjung di sekitar menara untuk memastikan tidak ada korban jiwa jika bangunan ini runtuh suatu saat.

Referensi
https://www.bbc.com/news/world-middle-east-39339373
http://www.kuriositas.com/2011/06/leaning-tower-of-suurhusen.html
http://www.thehistoryblog.com/archives/33540
https://www.rt.com/news/411804-pagoda-china-leaning-tower-pisa/
https://www.torun.pl/en/turystyka/zabytki/leaning-tower

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar