Sukurlah! Rencana Aksi Teror Ini Gagal Akibat Alasan Konyol

Di masa kini, kemajuan teknologi informasi menyebabkan hal-hal yang sifatnya berbahaya jadi lebih mudah untuk diakses oleh orang banyak. Sebagai akibatnya, muncullah teroris-teroris gadungan yang tega menyerang warga sipil dengan dalih memperjuangkan hal yang mereka anggap benar. 

Namun karena teroris gadungan tersebut pada dasarnya tidak dibekali dengan pengalaman yang cukup, tidak sedikit dari mereka yang gagal menjalankan aksinya dan kemudian harus melanjutkan hidupnya di balik jeruji besi. Berikut ini adalah beberapa contoh rencana aksi teror yang gagal terlaksana akibat alasan-alasan yang terbilang konyol.

Memasang Bom di Kanguru
Memasang Bom di Kanguru
Memasang Bom di Kanguru via metro.co.uk
Sevdet Ramadan Besim adalah nama dari seorang pemuda berusia 19 tahun yang tinggal di Australia. Dengan dibantu oleh seorang rekannya, Besim berencana melakukan serangan bom di jalanan kota Melbourne pada Hari Anzac, hari di mana penduduk Australia dan Selandia Baru memperingati para tentaranya yang gugur di medan perang.

Rencana tersebut sepintas terdengar menakutkan. Namun untungnya rencana tersebut tidak berhasil terwujud akibat kekonyolan Besim saat merencanakan aksinya. Alih-alih berencana meledakkan bom dengan cara menyembunyikannya di dalam mobil atau di tempat tersembunyi lainnya, Besim justru berencana menggunakan kanguru sebagai hewan pembawa bom bunuh diri.

Rencana Besim adalah ia akan memasang bom pada kanguru yang badannya sudah dicat dengan bendera ISIS. Sesudah itu, kanguru tadi akan diperintahkan untuk melompat ke arah kerumunan polisi. Saat sudah berada di tengah-tengah kerumunan polisi, bom tadi kemudian meledak.

Sepintas rencana tersebut nampak konyol dan mustahil untuk terlaksana. Dan memang demikianlah kenyataannya. Kendati terlihat lucu, kanguru aslinya adalah hewan yang agresif. Jangankan bisa dipasangi bom, kanguru yang didekati oleh orang asing akan langsung melompat-lompat melarikan diri. 

Dalam kasus yang parah, seekor kanguru bisa menyerang orang yang mengusiknya dengan cara mencakar atau menendang orang tersebut. Pada akhirnya, Besim tidak pernah berhasil melaksanakan rencananya karena ia keburu ditangkap terlebih dahulu oleh polisi.

Ketahuan Membuat Bom Akibat Kecelakaan
Ketahuan Membuat Bom Akibat Kecelakaan
ilustrasi Ketahuan Membuat Bom Akibat Kecelakaan via livestream.com
Michael O’Neill adalah nama dari seorang pria berusia 45 tahun asal New York, Amerika Serikat, yang mendukung paham supremasi kulit putih. Suatu hari pada tahun 2015, O’Neill secara diam-diam menggunakan garasi milik ayah angkatnya untuk membuat bom pipa. 

Untuk membuat bom yang dimaksud, O’Neill mengisi selongsong pipa dengan paku dan bahan peledak, kemudian menyumbatnya dengan tutup yang sudah diberi perekat dari pistol lem. Namun saat ia tengah menggunakan pistol lemnya, pistol tersebut mendadak terbakar dan tidak bisa lagi digunakan.

O’Neill yang merasa kesal kemudian menginjak-injak pipa berisi peledak tadi supaya penutupnya menjadi lebih kencang. Kelanjutannya sudah bisa kita tebak. Pipa tersebut kemudian meledak dan menghancurkan kaki O’Neill. Di luar garasi, suara ledakan keras yang timbul membuat tetangga O’Neill merasa terkejut dan spontan menghubungi polisi.

Saat polisi mendatangi garasi, polisi menemukan kalau garasi tersebut penuh dengan bahan-bahan pembuat bom beserta pernak-pernik bertema neo-Nazi. Barang-barang tersebut lantas segera diamankan oleh polisi, sementara O’Neill sendiri dilarikan ke rumah sakit sebelum kemudian disidang saat kondisinya sudah membaik.

Menyewa Kartel Meksiko untuk Meledakkan Bom
ilustrasi Menyewa Kartel Meksiko untuk Meledakkan Bom
ilustrasi Menyewa Kartel Meksiko untuk Meledakkan Bom via news.detik.com
Meksiko bukan hanya terkenal dengan tayangan telenovelanya. Negara tetangga Amerika Serikat ini juga menyandang reputasi sebagai sarangnya kartel narkoba. Tidak main-main, kartel-kartel yang beroperasi di negara ini dilengkapi dengan senjata-senjata berlevel militer seperti senapan serbu dan peluncur roket. Para anggota kartel juga tidak segan-segan menggunakan metode sadis untuk menyingkirkan anggota kartel saingannya.

Reputasi menakutkan yang dimiliki oleh kartel tersebut lantas diperkirakan menjadi penyebab mengapa otoritas Iran sampai repot-repot mengutus 2 orang agen rahasianya untuk menyewa jasa kartel narkoba Meksiko. Rencananya kartel tersebut hendak disewa untuk melakukan pembunuhan kepada diplomat Arab Saudi dan membom 2 gedung kedutaan besar.

Supaya bisa menghubungi kartel yang dimaksud, agen rahasia Iran kemudian menghubungi seorang warga Meksiko yang terlibat dalam sindikat perdagangan narkoba supaya pihaknya dipertemukan dengan perwakilan kartel. Namun mereka tidak tahu kalau orang yang mereka ajak bicara ternyata aslinya adalah polisi yang sedang menyamar sebagai anggota geng penjahat.

Polisi tersebut menerima uang yang ditawarkan oleh agen Iran, kemudian berpura-pura setuju sambil menjanjikan kalau mereka bakal dipertemukan dengan perwakilan kartel. Sesudah itu, polisi tadi melaporkan agen-agen tersebut kepada FBI yang kemudian langsung melakukan penangkapan.

Saat mereka ditangkap dan kabar penangkapannya diliput oleh media, pemerintah Iran mengaku tidak mengenal agen yang ditangkap dan balik menuduh kalau penangkapan tersebut aslinya hanyalah akal-akalan presiden Barrack Obama untuk mencemarkan nama baik Iran. Agen Iran yang ditangkap tadi sendiri dijatuhi hukuman penjara 35 tahun.

Melakukan Pembunuhan Memakai Pistol Palsu
Melakukan Pembunuhan Memakai Pistol Palsu
Melakukan Pembunuhan Memakai Pistol Palsu via internasional.kompas.com
Irlandia Utara di akhir abad ke-20 merupakan tempat yang sangat mencekam. Pasalnya di negara bagian Inggris tersebut, aksi saling bunuh antara warga Katolik dan Protestan merupakan hal yang lazim terjadi. 

Michael Stone yang berasal dari golongan Protestan merupakan satu dari sekian banyak orang-orang Irlandia Utara yang terlibat dalam fenomena ini. Pada tahun 1989, ia dijatuhi hukuman penjara seumur hidup karena melakukan penembakan dan pelemparan granat di tengah-tengah berlangsungnya upacara pemakaman yang digelar oleh komunitas Katolik setempat.

Stone sendiri tidak sampai menjalani hukumannya secara penuh setelah ia dibebaskan pada tahun 2000 sebagai bagian dari pelaksanaan perjanjian damai Jumat Agung yang mengakhiri konflik sektarian di Irlandia Utara. Meskipun begitu, ternyata Stone masih belum jera dan nampaknya belum ingin melihat Irlandia Utara kembali berada dalam kondisi damai.

Pada tahun 2006, Stone memasuki gedung parlemen Irlandia Utara di Stormont untuk membunuh 2 orang anggota Partai Sinn Fein. Sesampainya di dalam, ia langsung menyalakan bom rakitannya dan kemudian melemparkannya ke koridor. Beruntung bagi orang-orang yang ada di lokasi, bom yang dinyalakan oleh Stone ternyata gagal meledak.

Petugas keamanan langsung bergegas untuk menangkap Stone, namun Stone mencoba menghalau mereka dengan cara mengeluarkan pistol yang ternyata adalah pistol mainan. Stone pun kemudian dilumpuhkan di tempat dan kemudian diadili atas tuduhan melakukan percobaan pembunuhan.

Dilaporkan oleh Orang Tua Sendiri
The Anarchist Cookbook
The Anarchist Cookbook via mylespower.co.uk
Suatu hari, 2 orang pemuda asal Newcastle yang terpapar oleh paham radikal berencana membuat bom pipa dan meledakannya di Istana Buckingham, gedung parlemen, serta pusat perbelanjaan di London, Inggris. Kendati keduanya sebelum ini belum pernah membuat bom, mereka tetap nekat menjalankan rencananya dengan menggunakan buku “The Anarchist Cookbook” yang berisikan panduan mengenai cara membuat bom rakitan.

Rencana kedua orang tersebut pada akhirnya tidak pernah terlaksana setelah upaya mereka digagalkan oleh ibu salah seorang pemuda itu sendiri. Saat sang ibu sedang mengecek kamar milik anaknya, ia merasa curiga karena di dalam kamar anaknya terdapat benda menyerupai obat yang mencurigakan.

Sang ibu kemudian segera bergegas menghubungi polisi untuk melaporkan temuannya. Saat polisi tiba di lokasi dan memeriksa kamar anaknya, polisi menyatakan kalau benda mencurigakan tersebut aslinya bukanlah obat-obatan terlarang, melainkan hanyalah obat sakit kepala dan bubuk kopi. 

Meskipun begitu, saat polisi melakukan penggeledehan di kamar tersebut, polisi berhasil menemukan kalau sang anak ternyata menyimpan bahan pembuat bom, literatur bertema anti-Yahudi, dan detail rencana mengenai aksi penyerangan yang hendak dilakukan di London. Tanpa menunggu lebih lama lagi, polisi pun langsung melakukan penangkapan kepada sang anak.  

Sumber :
https://listverse.com/2016/02/04/10-embarrassingly-dumb-terror-plots-that-failed-miserably/
https://www.huffpost.com/entry/bombs-and-nazi-imagery-found-after-explosion-blew-mans-leg-off_n_55c3b9a6e4b0923c12bc14fe

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel